Refleksi Media Sosial
Di awal kemunculannya, aku merasa media sosial memberi insentif pada pencitraan, bukan kejujuran. Perlahan-lahan kita terlatih untuk membangun citra yang sempurna: selalu bahagia, selalu menarik, selalu berhasil.
Karena citra diri kita ditampilkan di hadapan banyak orang, kita menjadi sangat peduli pada bagaimana diri kita dipersepsikan. Komentar buruk terasa sangat personal. Kritik terasa seperti ancaman. Kekurangan terasa seperti aib yang harus disembunyikan.
Sedikit demi sedikit, kita menjadi rapuh. Sulit menerima masukan yang tidak menyenangkan. Sulit mengakui kekurangan. Kita mulai melihat diri sebagai sosok yang istimewa dan berbeda dari orang lain.
Padahal pertumbuhan justru menuntut kebalikannya:
- Kejujuran bahwa hidup tidak selalu sempurna.
- Kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita punya kekurangan.
Justru dengan mengetahui itu kita bisa terus memperbaikinya. Tidak ada manusia yang tanpa cela. Tidak ada manusia yang sempurna dan itu tidak apa-apa.