Jurnal Hari

Membedakan Antara Penting dan Mendesak

Belakangan ini kadang aku merasa gamang tentang prioritas. Banyak hal yang ingin dilakukan, semuanya terasa penting — kerja, hobi, belajar hal baru, istirahat, keluarga. Kadang rasanya seperti hidup itu cuma memilih hal mana yang mau “dikalahkan” hari ini.

Ada satu hal yang baru akhir-akhir ini mulai terasa jelas buatku: hal penting itu seharusnya ditentukan oleh dampak dan bagaimana ia mengambil ruang dalam hidup kita, sementara urgensi (rasa mendesak) itu bisa saja muncul dari perasaan.

Dua hal ini seringkali tertukar. Setelah menyadari itu pelan-pelan aku mulai mengatakan pada diriku:

Tidak semua yang terasa mendesak itu benar-benar penting. Dan tidak semua yang penting akan terasa mendesak.


Tentang Urgensi yang Sering Menipu

Aku perhatikan ada dua sumber urgensi:

  1. Urgensi dari luar — deadline kantor, meeting, tugas mendadak.
  2. Urgensi dari dalam pikiran sendiri — takut ketinggalan info, pengen aktivitas lebih nyaman dengan membeli barang, pengen melakukan hobi lebih banyak, pengen segala sesuatu seperti yang kita inginkan.

Yang kedua ini tricky.
Bahkan saat tidak ada tekanan nyata, aku bisa merasa “harus” nonton video youtube, “harus” baca sesuatu, seperti ada rasa takut tertinggal.

Padahal kalau dipikir ulang…
dilakukan besok juga masih bisa.
bahkan 80% informasi tambahan itu sebenarnya tidak mengubah apapun jika kita tidak melakukan sesuatu.

Tentang Pentingnya Hal yang Diam-diam Membangun Hidup

Dari situ aku belajar melihat “penting” dari sisi yang berbeda. Bukan dari dramanya atau seberapa ingin kita melakukannya (dengan alasan apapun), tapi dari dampaknya.

Ternyata hal-hal itu sederhana saja:

Yang sering kalah oleh urgensi justru hal-hal yang bikin hidup terasa lebih utuh.