Manusia Jatuh Cinta pada Simbol
Mengapa begitu banyak orang tertarik pada kecantikan, tetapi tidak terlalu tertarik pada kesehatan?
Sekilas rasanya kesehatan jauh lebih penting. Kesehatan memengaruhi kualitas hidup sehari-hari, energi, produktivitas, bahkan umur panjang. Namun topik kesehatan sering dianggap membosankan. Sebaliknya, kecantikan mampu menarik perhatian jutaan orang.
Semakin lama aku memikirkannya, semakin aku merasa bahwa ini bukan hanya tentang kesehatan dan kecantikan.
Ini tentang kecenderungan manusia untuk mengejar simbol daripada substansi.
Paradoks Substansi
Kesehatan adalah substansi. Kecantikan (dan ketampanan) yang ditunjukkan oleh wajah atau tubuh ideal sering kali menjadi simbolnya.
Nampaknya sehat tidak selalu menjadi tujuan utama. Cukup jadi terlihat sehat.
Paradoks yang sama muncul dalam hal kekayaan.
Banyak orang mengatakan bahwa mereka ingin kaya. Namun aku tidak yakin itu sepenuhnya benar.
Yang sering diinginkan adalah terlihat kaya.
Coba bayangkan dua orang.
Orang pertama memiliki aset yang besar, tabungan yang cukup, tidak memiliki utang konsumtif, dan hidup sederhana. Dari luar, tidak ada yang istimewa. Mobil biasa. Rumah biasa. Pakaian biasa.
Orang kedua memiliki mobil mewah dan gaya hidup mahal, dan utang yang menumpuk hasil dari kredit. Dari luar, ia tampak sukses.
Siapa yang lebih mungkin mendapatkan rasa hormat dari orang yang baru mengenalnya?
Sering kali orang kedua.
Kenyataan yang Tersembunyi
Kita seringkali menghormati apa yang terlihat, bukan apa yang nyata.
Karena kenyataan sulit dilihat.
Kesehatan tidak selalu terlihat.
Kekayaan tidak selalu terlihat.
Karakter tidak selalu terlihat.
Pengetahuan tidak selalu terlihat.
Yang terlihat justru simbol-simbolnya.
Tubuh atletis dianggap sehat.
Mobil mahal dianggap kaya.
Jabatan dianggap kompeten.
Kesibukan dianggap produktif.
Padahal hubungan antara simbol dan kenyataan tidak selalu kuat. Masalah muncul ketika kita mulai mengejar simbol itu sendiri.
Kita membeli barang untuk terlihat kaya daripada membangun kekayaan.
Kita mengejar bentuk tubuh tertentu daripada kesehatan.
Kita ingin terlihat produktif daripada menghasilkan pekerjaan yang berarti.
Kita ingin terlihat pintar daripada belajar.
Mungkin karena simbol memberikan hadiah sosial yang lebih cepat.
Orang lain bisa melihatnya.
Orang lain bisa mengaguminya.
Orang lain bisa memberi validasi.
Sedangkan substansi sering bekerja dalam sunyi.
Tidak menarik perhatian.
Tidak menghasilkan pujian instan.
Namun substansi adalah yang benar-benar bertahan.
Kesehatan tetap berguna meskipun tidak ada yang melihatnya.
Kekayaan tetap bermanfaat meskipun tidak ada yang mengaguminya.
Pengetahuan tetap berharga meskipun tidak dipamerkan.
Karakter tetap penting meskipun tidak mendapat penghargaan.
Aku tidak kebal terhadap kecenderungan ini. Aku juga manusia. Aku juga tertarik pada simbol.
Tetapi setidaknya aku ingin terus mengingat satu pertanyaan sederhana:
Apakah aku sedang membangun sesuatu yang nyata, atau hanya berusaha terlihat seperti memilikinya?