Jurnal Hari

Kesadaran Berkendara

Aku suka berkendara—baik naik motor maupun menyetir mobil. Dulu, aku suka ngebut. Fokusku sederhana: secepat mungkin sampai tujuan. Aku mencari celah, mengambil keputusan cepat di jalan, kadang sedikit memaksakan. Ada rasa bangga ketika bisa sampai lebih cepat dari yang lain, aksi-aksi berbahaya dan manuver cepat pun dipandang keren.

Dan itu terasa normal. Banyak orang melakukan hal yang sama. Tidak terjadi apa-apa, jadi aku menganggap caraku benar.

Aku dulu berpikir keselamatan itu otomatis. Selama bisa nyetir atau berkendara, berarti aman. Tanpa sadar, prioritasku bergeser: bukan lagi selamat, tapi cepat. Lebih efisien. Tidak tertinggal.

Belakangan aku mulai melihatnya berbeda.

Keselamatan bukan sesuatu yang default. Itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan lalu tetap baik-baik saja. Kalau kita ngebut dan tetap selamat, mungkin itu bukan karena kita jago—tapi karena kita beruntung. Karena pada dasarnya, ngebut selalu meningkatkan risiko.

Keselamatan adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil sepanjang perjalanan: menahan diri untuk tidak ngebut, menjaga jarak, dan tetap sabar saat kondisi tidak ideal.

Aku juga mulai sadar, keinginan untuk cepat sampai sering kali hanya ilusi kontrol. Kita merasa lebih cepat, lebih efisien. Padahal selisih waktunya sering tidak seberapa. Yang benar-benar bertambah justru risikonya.

Sekarang prioritasku berubah.

Aku tidak lagi terlalu peduli berapa menit yang bisa dihemat. Tidak terlalu terganggu ketika orang lain menyalip. Fokusku sederhana: sampai tujuan dengan selamat.

Karena pada akhirnya, tidak ada perjalanan yang cukup penting untuk ditukar dengan keselamatan.