Jurnal Hari

Kenapa Aku Suka Touring Naik Motor

Aku suka touring (perjalanan jauh) naik motor karena satu hal sederhana: fleksibilitas.

Motor itu seperti “alat eksplorasi” yang tidak banyak batasannya. Dia bisa masuk ke jalan kecil, gang sempit, bahkan jalur yang nyaris tidak terpikirkan untuk dilalui kendaraan lain. Tempat-tempat seperti ini justru sering jadi bagian paling menarik dari perjalanan—yang sepi, yang jarang didatangi, yang terasa lebih “otentik”.

Di sisi lain, motor juga tetap mampu untuk perjalanan jauh. Bukan yang paling nyaman, memang. Tapi cukup. Dan kadang, justru rasa “cukup” itu yang bikin perjalanan terasa lebih hidup.

Kalau pakai mobil, aku sering merasa ada terlalu banyak pertimbangan. Jalannya muat atau tidak? Ada tempat parkir atau tidak? Aman tidak kalau harus berhenti di tempat tertentu? Bahkan hal sederhana seperti bensin pun jadi kepikiran—cukup atau tidak kalau harus muter atau nyasar sedikit.

Hal-hal kecil ini pelan-pelan membatasi pilihan. Bukan tidak bisa, tapi jadi banyak “mikir dulu”.

Sedangkan naik motor, banyak dari batasan itu hilang. Kalau ada jalan kecil yang menarik, tinggal masuk. Kalau ingin berhenti, biasanya lebih mudah. Kalau ingin belok tanpa rencana, rasanya lebih ringan.

Buatku, touring bukan soal sampai tujuan secepat mungkin dan senyaman mungkin. Justru sebaliknya—tentang memberi ruang untuk eksplorasi dan kadang spontanitas.

Di situ motor jadi kendaraan yang terasa pas. Dia tidak sempurna, bukan yang paling nyaman, tapi memberi banyak keleluasaan.