Jika Tersesat atau Cedera Saat Mendaki Gunung
TL;DR Saat ada yang cedera dan situasinya stabil: tetap bersama, beri sinyal, dan tunggu. Saat tersesat: jangan improvisasi, kembali ke jalur yang paling diingat, dan jika ragu, berhenti.
Beberapa waktu terakhir ada pola kejadian yang berulang di gunung. Dua kasus orang hilang, dengan skenario hampir sama: satu anggota tim cedera, lalu ada rekan yang memutuskan turun untuk mencari bantuan. Ironisnya, orang yang cedera dan berdiam diri justru ditemukan lebih cepat oleh tim SAR, sementara yang turun sendirian malah tersesat.
Kasus seperti ini terlihat dramatis, tapi kalau ditarik ke logika lapangan, jawabannya sebenarnya tidak rumit. Yang sering membuat keadaan memburuk bukan cederanya, melainkan keputusan lanjutan setelahnya.
Anggota Tim Cedera
Pertama, soal anggota yang cedera. Naluri manusia memang ingin “melakukan sesuatu”, biasanya dengan segera mencari bantuan. Padahal dalam konteks pendakian, ini sering kali bukan pilihan paling aman. Jika kondisi korban stabil dan tidak mengancam nyawa dalam hitungan menit, maka berdiam diri adalah pilihan yang rasional.
Tim SAR bekerja dengan acuan last known position. Pendaki yang tidak turun sampai batas waktu yang ditentukan akan otomatis memicu pencarian, baik melalui tim di basecamp, pengelola jalur, atau laporan keluarga ke kepolisian—pada kasus pendakian ilegal yang tidak tercatat.
Dalam banyak kasus, menunggu semalam bukan masalah besar. Justru memecah tim dan menyuruh satu orang turun sendirian sering menambah satu korban baru. Statistiknya jelas: orang yang diam dan terlihat lebih mudah ditemukan daripada orang yang bergerak tanpa arah.
Ada banyak cara supaya tim SAR mudah menemukan orang hilang. Pasang penanda visual yang jelas dari pakaian warna terang/kontras (ada alasan kenapa pakaian mendaki dibuat dengan warna terang dan mencolok). Jika membawa peluit, 3 tiupan = sinyal darurat/SOS. Membuat jejak visual, misalnya tanda X dari ranting di jalur atau membuat simpul di pohon yang mudah ditemukan.
Setelahnya, kita mungkin perlu menunggu dalam waktu yang relatif panjang karena tim SAR perlu berkumpul, membuat rencana dan jalan sampai titik lokasi. Jadi buat rencana untuk menghemat energi dan logistik paling tidak sampai 2 hari. Buat api jika membawa korek dan shelter emergency untuk melindungi diri dari cuaca.
Note: korek api dan peluit harus selalu menempel di tubuh kita, kemanapun saat di gunung.
Tersesat di Gunung
Kedua, soal tersesat, terutama saat perjalanan turun. Banyak orang mengira turun itu mendekatkan ke peradaban. Kenyataannya, semakin kita ke bawah, jalur justru semakin “rumit”: bercabang ke mana-mana, bertemu jalur air, jalur satwa, kebun, atau jalan logging. Begitu seseorang sadar jalur yang dilalui tidak lagi familiar, keputusan terbaik adalah berhenti. Bukan meneruskan, bukan mengandalkan firasat. Itulah kenapa ada protokol dengan akronim STOP jika kita tersesat.
Evaluasinya sederhana: apakah masih yakin seratus persen bisa kembali ke jalur terakhir yang diingat? Jika iya, retrace perlahan—dan lebih aman memilih naik daripada turun, karena jalur ke atas cenderung menyempit dan mengurangi opsi salah. Selain itu, tempat tinggi bisa membuat kita punya visibilitas lebih. Jika tidak yakin, berhenti di jalur terakhir yang jelas, buat diri mudah terlihat, dan jangan improvisasi. Karena kondisi fisik yang menurun membuat pikiran tidak jernih dan rentan jatuh juga.
Strategi Menahan Diri
Dua poin ini saling terhubung oleh satu benang merah: menahan diri sering kali lebih menyelamatkan daripada bergerak. Dalam situasi darurat di gunung, hero instinct—keinginan untuk segera bertindak—justru sering menjadi pemicu masalah lain. Diam bukan berarti menyerah, dan menunggu bukan berarti pasrah. Itu strategi.
Kalau diringkas, evaluasinya sederhana. Saat ada yang cedera dan situasinya stabil: tetap bersama, beri sinyal, dan tunggu. Saat tersesat: jangan improvisasi, kembali ke jalur yang paling diingat, dan jika ragu, berhenti. Lebih baik ditemukan dalam kondisi lelah daripada tidak ditemukan sama sekali.