Jurnal Hari

Incompatible Goals

Aku mulai melihat pola yang sama berulang kali ketika mengambil keputusan:

incompatible goals — beberapa kriteria tujuan yang tidak bisa dipenuhi sekaligus.

Contoh paling klasik datang dari dunia pengembangan software:
good, fast, cheap — pick any two.

Software bagus dan dibuat dengan cepat tidaklah murah;
Software bagus dan dibuat dengan murah membutuhkan waktu lama;
Software dibuat dengan murah dan cepat tidak akan bagus.

Dan ternyata ini bukan cuma berlaku di software.

Di pilihan makanan juga sama: enak, sehat, murah.
Kita hanya bisa memilih dua.

Seringkali yang enak dan murah tidak sehat.
Yang sehat dan enak biasanya tidak murah.
Yang sehat dan murah? Ya… seringkali tidak terlalu enak.

Coba perhatikan ini lagi saat kamu coba membuat keputusan, kamu akan menemukannya di mana-mana.

Bukan Masalah Tapi Batasan

Dulu aku menganggap ini sebagai masalah yang harus dipecahkan. Seolah ada kombinasi ideal yang belum ketemu dan suatu saat akan ada solusinya.

Sekarang aku melihatnya lebih jujur: ini bukan problem, ini batasan. Di titik ini, aku sebenarnya tidak sedang “mencari pilihan terbaik”. Aku sedang menentukan trade-off, mana konsekuensi yang siap aku terima, dan di bagian mana aku mau berkompromi.

Kompromi atau Frustrasi

Tidak ada pilihan sempurna. Selalu ada konsekuensi di setiap pilihan yang kita ambil. Dan kita tetap harus membuat keputusan.

Jadi daripada mencoba mengakali supaya dapat semuanya—yang sering berujung frustrasi—aku memilih pendekatan yang lebih sederhana: menerima trade-off-nya secara sadar.

Kalau aku pilih cepat, berarti aku siap bayar lebih atau terima kualitas yang biasa saja. Kalau aku pilih murah, berarti aku siap menunggu atau menurunkan ekspektasi.

Dengan cara ini, keputusan jadi lebih ringan.

Semakin cepat aku menerima bahwa aku tidak bisa mendapatkan semuanya sekaligus, semakin mudah aku membuat keputusan.

Bukan karena opsinya lebih baik, tapi karena aku berhenti menuntut sesuatu yang memang tidak mungkin ada.