Jurnal Hari

Ilusi Urgensi

Pernah ngalamin ngerasa harus ngebut di jalan supaya cepat sampai? Atau pengen cepet bisa lari kenceng biar bangga posting di medsos? Atau pengen benerin bug secepat mungkin untuk memenuhi ekspektasi klien?

Belakangan ini aku sering merasa gamang. Rasanya aku lebih sering bergerak karena suatu dorongan yang aku ga ngerti kenapa. Intinya sesuatu itu terasa mendesak, bukan karena aku benar-benar tahu apa yang penting.

Aku coba liat lebih teliti dan nemuin satu hal ini: "Penting" itu seharusnya ditentukan oleh dampak dan risiko terhadap hidup kita. Sedangkan rasa mendesak sering muncul dari emosi—bukan realita. Dua hal ini mudah tertukar.


Urgensi Bagaikan Ilusi

Aku lihat pola ini muncul di tiga hal dalam keseharianku:

Urgensi biasanya datang dari dua sumber:

  1. Dari luar — contoh: jalanan macet-semua orang buru-buru, tekanan sosial, deadline dari klien.
  2. Dari dalam — contoh: ga sabar di jalan atau mengantre - ingin cepat sampai tujuan, ingin terlihat unggul dibanding orang lain, ingin segera memenuhi permintaan klien.

Yang kedua ini lebih halus. Kadang tanpa ada tekanan nyata pun, aku merasa “harus” cepat. “Harus” nyalip supaya sampai duluan. “Harus” bisa lari lebih cepat dari orang lain. “Harus” deliver ke klien segera.

Padahal kalau dipikir dengan jernih… sebagian besar itu cuma sugesti.

Aku ngerti kalau antre panjang, terlihat lambat dibanding yang lain atau ada ekspektasi dari klien, semua itu ga nyaman. Tapi buru-buru sering membawa risiko yang tidak sebanding: kecelakaan lalu lintas, cedera/kelelahan, bug baru.

Dari situ aku mulai mendefinisikan “penting” dengan cara yang lebih realistis. Bukan berdasarkan dramatisasi atau dorongan hati, tapi dari dampak dan risikonya. Dan ini adalah bagian yang ada dalam kendali kita, bukan karena orang lain, bukan karena situasi.

Pertanyaan yang mulai rutin aku tanyakan jika aku mulai melakukan sesuatu karena desakan yang aku ga ngerti:

Ternyata hal-hal penting bagiku itu sederhana:

Sayangnya, seringkali hal-hal penting seperti ini kalah oleh rasa mendesak yang sebenarnya kosong—sekadar dorongan sesaat, bukan kebutuhan nyata. Setelah sadar itu, aku mulai mengingatkan diri sendiri: tidak semua yang terasa mendesak itu penting, dan tidak semua yang penting akan terasa mendesak.