Hiking Berujung Rescue Kucing
Hari ini seharusnya hanya tentang hiking, udara pegunungan, dan pemandangan. Aku mendaki di Bukit Klangon bersama istri dengan niat jalan santai. Semua terasa normal sampai kami tiba di puncak.
Kami turun lewat jalur berbeda. Di antara Pos 2 dan Pos 1, kami berhenti cukup lama untuk beristirahat. Di situlah aku melihat tiga anak kucing di semak-semak, tepat di sisi jalur.
Aku mendekat untuk melihatnya.
Satu masih hidup.
Satu sudah mati—dari kondisinya terlihat seperti terlindas.
Satu lagi sekarat.
Awalnya kami hanya berdiri bingung, mencoba mencerna situasi. Setelah beberapa menit, aku mulai menduga mereka sengaja dibuang. Tidak ada induk di sekitar. Tidak ada tanda koloni kucing liar. Dari penampilan fisiknya pun aku cukup yakin mereka bukan kucing kampung yang memang beradaptasi hidup di sana. Terlihat seperti anak kucing rumahan yang entah bagaimana berakhir di jalur pendakian.
Bawa atau Biarkan?
Kami berdiskusi sambil terus memperhatikan mereka. Lalu aku melihat sesuatu yang sulit diabaikan: anak kucing yang hidup itu menjilat dua saudaranya. Seolah berusaha membangunkan mereka. Gerakan kecil yang tidak mengerti bahwa mereka sudah tidak bisa bangun lagi.
Di titik itu aku membayangkan malam turun di ketinggian sekitar 1000an mdpl. Suhu akan turun. Gelap. Tanpa induk. Tanpa perlindungan. Seekor anak kucing kecil bertahan hidup sendirian.
Bayangan itu cukup untuk membuatku berhenti berpikir terlalu lama.
Aku memutuskan membawanya turun.
Sampai di area warung, kami langsung memesan makan. Istriku melaporkan kejadian ini ke petugas, tetapi mereka tidak memiliki prosedur khusus untuk kasus seperti ini dan mempersilakan kami membawanya pulang.
Sambil makan, kami berdiskusi lagi. Anak kucing itu terus mengeong. Kami mencoba memberinya ayam suwir dari soto, dan dia memakannya dengan lahap. Dia juga mau minum air.
Jujur, kami sempat ragu. Kami tidak punya pengalaman merawat kucing. Tidak punya tempat dan perlengkapan. Ada momen ketika terasa lebih mudah untuk meninggalkannya saja di antara warung dan kucing lain. Tapi itu bukan solusi—hanya memindahkan risiko ke tempat lain.
Akhirnya aku tetap membawanya pulang.
Memeriksa Kondisi
Siangnya kami tiba di apotek tempat istriku bekerja. Aku menggunakan kardus sebagai kandang sementara dan membeli makanan khusus anak kucing. Dia sangat aktif. Nafsu makannya tinggi. Hanya terlihat ada kutu.
Kami membuat janji dengan dokter hewan, hanya ada jadwal pukul 4 sore. Sambil menunggu, yang bisa kami lakukan hanyalah memastikan dia makan, minum, kencing, dan pup. Kami berusaha menyebarkan informasi ke forum/teman terdekat supaya dia bisa diadopsi.
Sepanjang menunggu jam 4, kucing sering mengeong di dalam kandang kardus. Dia juga selalu berusaha kabur keluar. Dia baru merasa tenang dan bisa tidur ketika ada di atas pangkuan istriku. Mungkin ini yang dibutuhkan kucing seusianya, dekapan lembut sang induk.
Di dokter hewan, aku meminta pemeriksaan menyeluruh. Suhu tubuhnya normal. Tidak ada infeksi atau jamur. Hanya kutu. Beratnya 340 gram—sangat kecil dan rentan. Dokter menyarankan untuk fokus menaikkan berat badan sampai minimal 600 gram.
Dugaanku juga dikonfirmasi. Dokter mengatakan tidak masuk akal ada anak kucing jenis seperti itu hidup alami di atas gunung. Dengan usia dan berat segitu, mereka tidak akan mampu bertahan di alam liar. Ia juga menegaskan bahwa tindakanku sudah tepat. Tanpa intervensi, peluang hidupnya sangat kecil.
Tangan-Tangan Baik Memberi Bantuan
Ada satu hal yang membuat hari ini terasa lebih ringan: dokter menolak menerima bayaran untuk konsultasi dan pemeriksaannya. Kebaikan kecil yang terasa besar di tengah hari yang panjang.
Karena kami tidak punya tempat dan perlengkapan memadai di rumah, kami sempat berniat menitipkannya di jasa penitipan. Namun mereka tidak bisa menerima karena usianya terlalu kecil. Umumnya kucing yang dititipkan sudah dewasa dan mandiri. Kandang yang tersedia pun terlalu besar dan dingin, berisiko tinggi bagi anak sekecil itu.
Namun petugas penitipan banyak memberi saran untuk merawat anak kucing. Akhirnya aku bersiap untuk menjaganya sendiri. Tantangan terbesarnya adalah mengatur suhu ruangan, karena AC bisa membuatnya kedinginan dan berbahaya.
Untungnya, cerita ini tidak berlarut. Seorang teman bersedia mengadopsinya. Malam itu juga dia memiliki rumah.
Hari ini panjang. Melelahkan. Penuh ragu dan pertimbangan.
Tapi pada akhirnya, aku hanya memastikan satu makhluk kecil tidak menghadapi malam dingin sendirian di gunung.