Jurnal Hari

Hello Instagram

Aku membuka akun Instagram lagi bukan karena FOMO, bukan untuk validasi, dan bukan untuk kembali “hadir” di keramaian digital.

Aku melakukannya dengan sadar, setelah lima tahun memberi jarak, karena kondisiku sudah berbeda sekarang. Dulu Instagram menyedot banyak waktu, memicu perbandingan diri, dan menambah beban pikiran. Sekarang aku ingin menggunakannya secara terbatas dan fungsional: sebagai galeri publik untuk berbagi foto, mendokumentasikan potongan hidup, tanpa tuntutan interaksi.

Instagram kali ini bukan tempat mencari perhatian, tapi alat dokumentasi. Bukan hiburan, tapi arsip. Bukan konsumsi tanpa arah, tapi ekspresi seperlunya.

Aku menetapkan batas yang jelas—waktu singkat, tanpa notifikasi, tanpa obsesi angka—agar aku yang memegang kendali, bukan algoritma. Jika suatu hari kehadirannya kembali terasa mengganggu, aku siap berhenti lagi tanpa drama.

Intinya sederhana: aku ingin berbagi dan merangkai dokumentasi, bukan membandingkan. Hadir secukupnya, lalu kembali hidup di dunia nyata.