Jurnal Hari

Happiness Formula I

Dulu aku sering menganggap kebahagiaan hanya datang ketika kenyataan berjalan sesuai ekspektasi. Dan aku selalu punya ekspektasi tentang dunia yang sesuai keinginanku. Lalu lintas yang selalu lancar, hidup nyaman tanpa ada masalah, karir yang berhasil, orang di sekitarku selalu baik. Belakangan aku sadar ada konsekuensi besar dari keyakinan itu. Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, aku sering merasa kecewa, dan itu tidak menyenangkan.

Aku pernah membaca sebuah kalimat sederhana:

There were two ways to be happy: improve your reality, or lower your expectations.

Ada dua cara untuk bahagia: memperbaiki kenyataan, atau menurunkan ekspektasi. Ini bukan berarti aku harus selalu memilih satu dibanding lainnya. Aku justru melihat ada dua tuas yang bisa digerakkan ketika merasa tidak puas dengan hidup. Yang aku perlukan adalah cara untuk memilih tuas mana di situasi yang tepat.

Saat Kita Bisa Pegang Kendali

Saat tindakan yang diperlukan untuk meraih harapan itu ada dalam kendali kita dan bisa diusahakan, jalan terus, improve your reality.

Ingin dapat peningkatan karir?
Coba belajar lebih giat, bekerja lebih baik, dan menjalin hubungan lebih luas.

Ingin lebih sehat?
Berolahraga lebih konsisten, atur pola makan dan istirahat dengan baik.

Intinya adalah, ambil tindakan nyata. Tidak cukup hanya dengan punya ekspektasi saja. Bukan berarti akan mudah, tapi paling tidak ini adalah area yang bisa bisa diusahakan, di mana kita bisa pegang kendali. Berusaha dan pantang menyerah adalah kuncinya.

Belajar Menurunkan Ekspektasi

Masalah selanjutnya adalah, ekspektasi sering bergerak jauh lebih cepat daripada kenyataan. Aku membayangkan hasil datang dalam hitungan minggu, padahal progress kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Aku berasumsi perjalanan selalu mulus, padahal kenyataannya penuh hambatan. Aku mulai membandingkan diri dengan orang yang sudah berada jauh di depan tanpa melihat proses panjang yang mereka lalui.

Akibatnya, meskipun aku sedang ber-progress dan hidup sebenarnya sudah cukup baik, aku tetap ngerasa kurang.

Ini adalah situasi di mana kita harus memeriksa kembali ekspektasi kita. Apakah kondisi ideal yang aku bayangkan realistis? Jika tidak, maka ada baiknya kita mencoba menurukan ekspektasinya. Belajar menerima kenyataan, dan seringkali sabar adalah harga yang harus dibayar.

Nikmati perjalanannya, apresiasi setiap langkah kecil yang sudah dibuat. Bagiku, mencatat dan memvisualisasikan progress bisa membantuku memahami bahwa besar kecilnya progress tidak terlalu penting, yang penting adalah aku selalu berjalan ke arah yang benar.

Saat Kenyataan Ada di Luar Kendali

Kadang masalahnya bahkan bukan soal waktu. Namun, aku tanpa sadar menaruh ekspektasi pada hal-hal yang berada di luar kendali, seolah aku bisa mengusahakannya. Cuaca cerah saat mendaki, kondisi jalan yang lancar saat bepergian, respons orang lain, atau kesempatan yang datang tepat ketika aku menginginkannya. Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, aku merasa kecewa, padahal sejak awal aku tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas hal itu.

Aku masih ingat masa-masa awal saat mendaki gunung, aku selalu berekspektasi cuaca cerah, pemandangan sempurna dan aku bisa dapat foto yang bagus. Ketika kabut turun dan puncak tertutup awan, perjalanan terasa mengecewakan. Padahal jalurnya tetap indah, tubuh tetap sehat, dan aku tetap bisa menikmati waktu di alam.

Yang membuat kecewa sering kali bukan kenyataannya, melainkan bagaimana aku melihat kenyataan, dibandingkan dengan ekspektasiku yang ideal. Padahal cuaca adalah sesuatu yang berada di luar kendaliku, itu tidak akan bisa dipengaruhi oleh pikiran atau usahaku. Memiliki ekspektasi atas hal-hal seperti itu bisa berujung pada kekecewaan.

Akhirnya aku sadar, banyak hal dalam hidup memang bisa kita usahakan, tetapi tidak semuanya bisa kita kendalikan. Semakin cepat kita menerima batas itu, semakin sedikit energi yang terbuang untuk melawan kenyataan.

Ini adalah situasi di mana kita harus memeriksa kembali ekspektasi kita. Apakah aku menaruh harapan pada sesuatu yang ada di luar kendali? Jika iya, lagi-lagi ada baiknya kita mencoba menurukan ekspektasinya. Belajar menerima kenyataan dan merelakan keadaan.

Tentu saja ini bukan berarti kita harus berhenti memiliki ekspektasi tinggi.
Menurunkan ekspektasi tidak sama dengan kehilangan harapan. Menurunkan ekspektasi berarti menerima bahwa kenyataan tidak selalu mengikuti skenario yang kita buat di kepala.

Kita tetap boleh memiliki ekspektasi, tetapi tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada terwujudnya ekspektasi ideal itu.

Jangan Biarkan Ekspektasi Merenggut Kebahagiaanmu

Saat aku mulai sering bersepeda. Kadang target kecepatan rata-rata atau ekspektasi menempuh jarak tertentu membuatku lupa menikmati perjalanan itu sendiri. Ketika target tidak tercapai, rasanya seperti gagal. Padahal aku tetap bergerak, tetap berolahraga, dan tetap mendapatkan manfaatnya.

Wajar bagi manusia untuk punya ekspektasi yang sesuai keinginannya. Optimisme dibangun dari pikiran yang selalu menginginkan kondisi yang baik, lebih baik dibanding saat ini. Membayangkan diri kita berhasil di masa depan bisa memberi motivasi untuk bekerja keras. Itulah yang mendorong kita terus bergerak maju. Belajar keterampilan baru, bekerja lebih baik, menjaga kesehatan, menabung, membangun bisnis, atau memperkuat hubungan adalah usaha yang layak dilakukan.

Ekspektasi bisa menjadi kompas yang menunjukkan arah, tetapi jangan biarkan kebahagiaan dan rasa syukur menunggu sampai kita tiba di tujuan.

Kenyataan Bahkan Bisa Lebih Baik

Menariknya, banyak hal terbaik dalam hidup bisa saja hadir ketika kita tidak terlalu memaksakan ekspektasi. Bahkan perjalanan yang tidak sesuai rencana bisa menjadi pengalaman paling berkesan dan memberi kita banyak pembelajaran.

Sering kali kita terlalu fokus pada tuas pertama. Padahal ketika kita berhenti menuntut hidup agar selalu sesuai harapan, kita mulai bisa melihat hal-hal baik yang sebenarnya sudah ada di depan mata.

Terkadang jalan tercepat menuju kebahagiaan bukanlah mendapatkan lebih banyak, tapi menginginkan lebih sedikit. Bukan karena kita tidak boleh punya ekspektasi ideal. Tetapi karena hidup yang tidak ideal pun masih layak untuk dinikmati.