Jurnal Hari

Film Dokumenter David Attenborough A Life on Our Planet

Aku baru selesai menonton film David Attenborough - A Life on Our Planet di Netflix. Ini tontonan yang bikin terdiam lama setelahnya. Film ini terasa seperti laporan akhir dari seseorang yang sudah melihat semuanya—David Attenborough tidak sekedar bercerita, ia sedang memberi kesaksian. Film ini menjadi salah satu referensi di buku Reset Indonesia.

Inti film ini sebenarnya sederhana, tapi implikasinya besar pada pemahamanku tentang relasi manusia dan alam: peradaban manusia hanya mungkin terjadi karena satu kondisi langka bernama Holosen. Selama sekitar 11.700 tahun terakhir, iklim Bumi relatif stabil—tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, musim bisa diprediksi, dan temperatur global naik turun tidak lebih dari sekitar satu derajat Celsius. Di “jendela stabilitas” inilah manusia bisa bertani, beternak, menetap, menyimpan surplus, lalu membangun kota dan peradaban.

Masalahnya, keberhasilan itu membawa konsekuensi. Populasi meningkat cepat, teknologi berkembang, dan manusia mulai mengambil alih hampir seluruh ruang hidup di planet ini. Hutan ditebang, lahan basah dikeringkan, laut dieksploitasi, dan keanekaragaman hayati dihabisi. Alam liar menyusut—bukan sebagai tragedi estetika, tapi sebagai kerusakan pada sistem penyangga kehidupan itu sendiri.

Alam Liar Bukan Sekedar Pelengkap

Film ini tegas: alam liar bukan sekadar pelengkap. Hutan, laut, dan ekosistem utuh berfungsi sebagai pengatur iklim, penyerap karbon, serta penstabil air dan tanah. Saat komponen-komponen ini diganggu, sistem Bumi kehilangan keseimbangannya. Di sinilah kita mulai keluar dari kondisi Holosen—menuju dunia yang lebih ekstrem, tidak stabil, dan semakin sulit diprediksi.

Kita tidak sedang “merusak alam”. Kita sedang merusak suatu kondisi yang membuat kita bisa hidup nyaman selama ini.

Alam akan baik-baik saja tanpa manusia. Sepanjang sejarahnya, Bumi sudah mengalami setidaknya lima kali kehancuran massal, dan setiap kali kehidupan selalu menemukan jalannya kembali. Justru yang tidak punya jaminan untuk kembali adalah manusia. Kita adalah makhluk rentan yang sepenuhnya bergantung pada kondisi sempit yang memungkinkan peradaban ini muncul, dengan segala bentuk pendukung kehidupannya.

Film ini juga membuatku semakin sadar bahwa banyak hal yang kita sebut “kemajuan” dan “kenyamanan” sejatinya lebih mirip hutang. Kita menikmati keunggulan cepat hari ini dengan mengambil sesuatu dari masa depan. Alam punya batas kapasitas dalam mendukung kehidupan manusia. Selama semuanya seimbang, sistem akan bekerja dengan baik menopang kehidupan. Namun, ketika kita mengambil lebih banyak dari yang mampu ia sediakan dan pulihkan, kita bukan sedang mengejar kemajuan—kita sedang menggerogoti fondasi hidup kita sendiri, pelan tapi pasti.

Alam Akan Tetap Ada, Tapi Manusia?

Attenborough tidak bilang “planet akan hancur”. Planet ini akan tetap ada. Yang terancam adalah peradaban manusia, karena seluruh sistem modern—pangan, kota, ekonomi—dibangun di atas asumsi iklim yang stabil. Ketika asumsi itu runtuh, krisis iklim, gagal panen, cuaca ekstrem, dan krisis air bukan lagi anomali, melainkan gejala sistem yang keluar jalur.

Yang membuat film ini penting adalah ia tidak berhenti dengan peringatan kiamat. Masih ada peluang untuk memperbaiki keadaan—bukan dengan melawan alam, tapi dengan bekerja sama dengannya. Mengembalikan ruang bagi alam liar, menghentikan deforestasi, memperbaiki cara bertani dan menangkap ikan, serta beralih dari energi fosil bukan hanya sebagai tindakan idealis, tapi langkah rasional untuk menstabilkan sistem yang menopang hidup kita.

Ini bukan film tentang “menyelamatkan alam”. Ini tentang menyelamatkan kondisi yang memungkinkan kita hidup sebagai manusia. Ini tentang menyelamatkan umat manusia. Kita tidak sedang berkorban demi pohon atau hewan. Kita sedang memilih apakah ingin mempertahankan fondasi peradaban kita sendiri—atau membongkarnya perlahan, dengan sadar.

Setelah menonton ini, sulit untuk melihat isu lingkungan sebagai topik terpisah. Ini bukan soal aktivisme atau moralitas. Ini soal sistem, sebab-akibat, dan pilihan jangka panjang. Dan yang paling mengganggu: pilihan itu tidak lagi abstrak. Ia sudah berjalan, sekarang.