Disiplin
Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan saat SMP adalah disiplin.
Saya bersekolah di SMP Muhammadiyah yang cukup ketat dalam menegakkan kedisiplinan. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah kegiatan perkemahan. Sejak tahun pertama sekolah, di kelas 7, kami berkemah selama empat hari tiga malam di sebuah area perkemahan di kaki Gunung Merapi, jauh dari lingkungan sekolah.
Pada usia 13 tahun, kami belajar hidup mandiri bersama teman satu regu. Kami mendirikan tenda, memasak, dan menjalani berbagai aktivitas luar ruang.
Namun bagian yang paling berat adalah dibangunkan pukul 3.30 dini hari untuk melaksanakan sholat malam. Udara pegunungan sangat dingin, rasa kantuk luar biasa, dan kami masih harus mengambil air wudhu. Tidak jarang saya setengah tertidur saat mendengarkan kultum setelah sholat Subuh.
Saat itu saya belum sepenuhnya memahami mengapa semua itu harus dijalani. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari pelajaran yang ingin ditanamkan: disiplin.
Mengapa Kita Perlu Disiplin?
Guru-guru kami percaya bahwa disiplin adalah fondasi keberhasilan.
Setiap orang memiliki tujuan. Namun perjalanan menuju tujuan itu hampir tidak pernah nyaman. Akan ada hambatan, kegagalan, rasa bosan, dan hari-hari ketika kita sama sekali tidak ingin melanjutkan.
Banyak orang percaya bahwa motivasi adalah kuncinya. Masalahnya, motivasi bersifat sementara. Ia datang dan pergi. Motivasi hanyalah sebuah perasaan, dan perasaan tidak selalu dapat diandalkan.
Don't rely on motivation. Hack your brain.
Disiplin berbeda. Disiplin adalah kemampuan untuk tetap melakukan hal yang perlu dilakukan, terlepas dari apakah kita sedang bersemangat atau tidak. Tidak peduli apakah kita suka dengan prosesnya atai tidak.
Di dunia nyata, keberhasilan sering kali menuntut kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Bangun pagi, berlatih, belajar, menabung, atau bekerja keras bukanlah aktivitas yang selalu menyenangkan.
Tetapi justru kemampuan untuk bertahan dalam ketidaknyamanan itulah yang membedakan orang yang hanya memiliki tujuan dengan orang yang benar-benar mencapainya.
Tujuan tidak dicapai oleh orang yang paling termotivasi, tetapi oleh orang yang tetap bergerak ketika motivasinya hilang.