Dalam Hidup, Memilih Berarti Melepaskan
Dalam hidup, kita punya banyak pilihan.
Kita bisa memilih beberapa di antaranya.
Tetapi kita tidak bisa mendapatkan semuanya sekaligus.
Mungkin ini adalah salah satu kenyataan paling sederhana dalam hidup, tetapi juga yang paling sering kita abaikan.
Hari ini internet membuka jendela ke hampir semua kemungkinan hidup.
Kita bisa melihat begitu banyak kemungkinan hidup. Ada yang fokus membangun karier. Ada yang memusatkan hidup pada keluarga, membangun hubungan yang dekat dan stabil. Ada juga yang menginvestasikan waktunya pada kesehatan dan aktivitas fisik, atau pada lingkar pertemanan dan komunitas yang luas.
Semua itu tampak mungkin. Dan secara teori, memang mungkin.
Masalahnya adalah: itu tidak berarti bisa semuanya kita jalani.
Kehidupan modern memberikan kita akses hampir tak terbatas pada informasi, ide, dan peluang. Tetapi sebagai manusia kita memiliki sumber daya yang sangat terbatas. Dua yang paling jelas adalah waktu dan perhatian.
Setiap orang hanya memiliki 24 jam dalam sehari. Tetapi yang lebih langka dari waktu adalah perhatian. Fokus kita memang bisa dibagi, tapi itu selalu punya konsekuensi. Setiap kali kita memberikan perhatian pada satu hal, kita secara otomatis mengurangi perhatian pada hal lain.
Di sinilah muncul konflik yang sering tidak kita sadari. Kita hidup di dunia dengan pilihan yang hampir tak terbatas, tetapi dengan kapasitas manusia yang tetap terbatas.
Kompor Empat Tungku
Salah satu cara sederhana untuk memahami keterbatasan ini adalah melalui konsep yang dikenal sebagai Four Burner Theory yang dipopulerkan oleh penulis dan komedian David Sedaris dalam sebuah artikel The New Yorker tahun 2009.
Bayangkan hidup seperti kompor dengan empat tungku.
- Family
- Friends
- Health
- Work
Setiap burner mewakili area penting dalam kehidupan. Idealnya kita ingin semuanya menyala dengan kuat. Kita ingin karier yang baik, kesehatan yang terjaga, hubungan keluarga yang dekat, dan pertemanan yang aktif.
Namun teori ini mengatakan sesuatu yang cukup jujur: untuk mencapai hasil luar biasa di satu bidang, biasanya kita harus mematikan satu burner. Untuk mencapai sesuatu yang benar-benar besar, sering kali kita bahkan harus mematikan dua burner.
Dengan kata lain, kehidupan yang maksimal di semua bidang hampir tidak pernah terjadi secara bersamaan. Bukan karena kita tidak cukup disiplin atau tidak cukup pintar. Tetapi karena perhatian manusia memang terbatas.
Setiap pilihan membawa trade-off.
Mengembangkan karier secara agresif sering berarti waktu keluarga berkurang. Fokus pada kesehatan dan olahraga membutuhkan waktu yang mungkin sebelumnya digunakan untuk pekerjaan. Membangun kehidupan sosial yang aktif juga membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Jangan Hanya Lihat yang Menyala
Masalahnya menjadi lebih rumit ketika narasi modern—terutama di media sosial—sering hanya memperlihatkan satu sisi kehidupan seseorang.
Kita melihat pebisnis yang sangat sukses, atlet yang selalu juara, atau kreator yang tampak produktif tanpa henti. Tetapi yang sebenarnya kita lihat hanyalah satu burner yang menyala sangat terang.
Yang tidak terlihat adalah burner lain yang mungkin diredupkan, atau bahkan dimatikan. Pebisnis sukses mungkin jarang pulang ke rumah. Atlet juara menghabiskan bertahun-tahun dalam latihan yang keras dan rutinitas yang melelahkan. Kreator yang produktif mungkin mengorbankan banyak waktu sosial.
Kita melihat hasilnya, tetapi tidak selalu melihat harga yang harus dibayar.
Mana yang Harus Dinyalakan
Bagiku ini tidak berarti kita harus mematikan burner yang sama sepanjang hidup. Yang penting adalah kesadaran bahwa setiap pilihan membawa konsekuensinya sendiri. Menyalakan dua burner saja untuk menjadi sangat sukses atau menyalakan semuanya sekaligus dan menjadi medioker. Selama seseorang memahami dan menerima konsekuensi itu, maka pilihan tersebut tetap sah.
Selain itu kita juga selalu punya opsi untuk mengubah konfigurasinya kapanpun sesuai kebutuhan. Kehidupan tidak berjalan dalam satu konfigurasi tetap bukan?
Burner dalam hidup seseorang sebenarnya tidak selalu menyala dengan intensitas yang sama sepanjang waktu. Ia berubah mengikuti tahap kehidupan. Di sini kita perlu kemampuan untuk menyesuaikan prioritas seiring waktu.
Pada fase tertentu seseorang mungkin memilih untuk membesarkan burner pekerjaan. Pada fase lain, perhatian lebih banyak diberikan pada keluarga, kesehatan, atau hubungan sosial. Tidak ada satu konfigurasi yang benar untuk semua orang.
Misalnya setelah lulus kuliah, banyak orang mulai menyalakan burner work dengan sangat kuat untuk membangun fondasi karier, mencoba berbagai peluang, atau mengembangkan keterampilan. Pada fase lain, perhatian bisa bergeser: ketika seseorang membangun keluarga, burner keluarga sering menjadi lebih dominan sementara waktu untuk pertemanan atau bahkan kesehatan bisa berkurang. Intinya, burner dalam hidup tidak selalu menyala dengan intensitas yang sama sepanjang waktu. Ia terus disesuaikan mengikuti fase kehidupan dan pilihan yang diambil masing-masing orang.
Jika dilihat dari perspektif ini, kehidupan sebenarnya bukan tentang menyalakan semua burner sekaligus sepanjang waktu. Kehidupan lebih mirip proses menyesuaikan intensitas setiap burner sesuai dengan fase yang sedang dijalani.
Memilih Beberapa dan Melepaskan yang Lain
Masalah banyak orang modern mungkin bukan karena kurangnya kesempatan. Justru sebaliknya.
Kita hidup di era di mana bisa melihat begitu banyak model kehidupan yang menarik: karir, keluarga, kesehatan, pertemanan, semua ditampilkan dalam bentuk terbaiknya. Dan semuanya tampak mungkin untuk dijalani.
Namun kesadaran bahwa kita tidak bisa menjalani semuanya sekaligus justru bisa menjadi sesuatu yang membebaskan.
Kita tidak perlu mencoba memaksimalkan semua kemungkinan hidup seperti yang kita lihat. Kita hanya perlu memilih beberapa hal yang benar-benar penting bagi kita, dan menerima bahwa setiap pilihan itu akan meredupkan nyala yang lain.
Bukan karena kita gagal.
Tetapi karena membuat satu pilihan memang selalu berarti melepaskan yang lainnya.